Follow by Email

Rabu, 22 Agustus 2012

My Article: Peran Remaja dalam Mengubah Dunia


Buat yang sering nanyain artikel gue waktu Jumbara PMR dan Temu Karya KSR Jawa Tengah, nih.. finally gue post.



A. Pendahuluan
Di zaman modern ini pengaruh globalisasi telah menguat dan mengubah pola pikir masyarakat. Sebagian besar masyarakat hanya berpikir untuk kesenangan pribadi dan golongan. Namun, masih ada remaja yang berpikir kritis dan menuntut adanya perbaikan dan perubahan demi negara bahkan dunia.
Remaja yang berpikir kritis berarti mampu melakukan sesuatu untuk menolong orang lain. Perbuatan tersebut bisa memengaruhi hidup seseorang maupun semua orang di dunia. Berkembangnya budaya hedonisme atau pandangan hidup yang beranggapan kesenangan dan kenikmatan hidup sebagai tujuan utama, sebagai akibat dari globalisasi menyebabkan turunnya rasa peka, peduli, dan empati di kalangan remaja poduktif (12-19 tahun).
Lantas, apa peka itu sendiri? Yang dimaksud peka di sini bukan sekedar memiliki sensor penglihatan, pendengaran, dan rasa sensitif secara fisik, melainkan kemampuan untuk merasakan apa yang ada atau terjadi di lingkungan sekitar. Rasa tersebut mengarah pada kepedulian dan empati terhadap orang lain. Bahkan kepada orang yang tidak dikenal sekalipun. Hanya dengan berusaha lebih peka, banyak yang bisa dilakukan untuk orang lain dan lingkungan.
Sungguh tepat jika peringatan Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah tahun ini mengusung tema “Youth on the Move” dengan subtema di Indonesia, “Kaum Muda Sebagai Agen Perubahan”. Melalui tema ini, generasi muda dimotivasi untuk terus melakukan aksi-aksi kemanusiaan.


B. Mengapa Harus Remaja?
Mengapa peran sebagai agen perubahan harus dilakukan oleh remaja? Bukankah semua orang bisa? Memang benar jika semua orang bisa menjadi agen perubahan. Namun, hal ini akan menunjukkan hasil yang lebih konkret jika dilakukan oleh remaja. Mengingat remaja merupakan generasi penerus bangsa. Jadi, remaja harus mempunyai jiwa seorang agen perubahan jika ingin melakukan perubahan yang besar untuk bangsa, negara, bahkan dunia. Selain itu remaja cenderung lebih mudah bersosialisasi dan meniru atau terinspirasi jika bergaul sesama remaja lainnya. Generasi muda diharapkan dapat terlibat untuk menciptakan budaya damai tanpa kekerasan, membantu masyarakat agar lebih siap menghadapi bencana, dan membantu membuka akses kesehatan untuk masyarakat.

C. Bagaimana Pengaruh Peran Remaja dalam Perubahan?
Peran remaja dalam memengaruhi perubahan lingkungan menjadi lebih baik memang tidak mudah diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Menurut Direktur Ashoka Indonesia, Mira Kusumarini, ada cara sederhana untuk mengukur dampak signifikan dari peranan remaja. Jika sedikitnya ada 1 persen dari total populasi remaja di Indonesia yang mempunyai gagasan akan perubahan, harapan itu optimis bisa terwujud. Dengan estimasi jumlah remaja sekitar 10 persen dari total populasi 230 juta jiwa penduduk Indonesia, jumlah populasi remaja Indonesia sekita 23 juta jiwa. Artinya jumlah agen yang signifikan yaitu 2.300.000 jiwa.

D. Remaja sebagai Agen Perubahan Dunia
Bagaimana caranya menjadi seorang agen perubahan dunia? Mudah saja, yaitu dengan melakukan gerakan perubahan secara sadar dengan caranya sendiri. Banyak remaja yang salah mengartikan maksud dari gerakan perubahan dengan caranya sendiri. Seringkali media menayangkan remaja-remaja turun ke jalanan memalai jaket almamater, melakukan orasi dengan berteriak-teriak, membakar property, merusak fasilitas umum yang dapat mengganggu pengguna jalan dan menimbulkan kemacetan. Masyarakat biasa menyebutnya dengan demonstrasi menuntut demokrasi. Bahkan, tidak jarang kita menjumpai tawuran pelajar di berbagai daerah. Sayangnya, perubahan tidak akan terjadi apabila sebagai remaja hanya berkomentar dan mengkritik tanpa memberikan kontribusi yang positif. Menjadi remaja harus benar-benar aktif jika menginginkan adanya perubahan.
Lantas, apa saja yang harus dimiliki seorang agen perubahan selain ras peka, peduli, dan empati? Pertama, seorang agen perubahan harus mempunyai “sesuatu”, yaitu prestasi, bakat, atau kemampuan tertentu yang dimiliki. Kedua, adalah kepedulian. Peduli terhadap lingkungan sekitar dan mempunyai respect terhadap semua orang di semua kalangan. Tiga, usaha yang keras. Menjadi seorang agen perubahan bukan perkara yang mudah. Agar perubahan yang diinginkan tercapai, haruslah berusaha dengan keras. Empat, yaitu, eksis. Eksis bukan berarti harus tampil di segala kesempatan yang ada. Eksis disini berarti keberadaannya bisa diterima oleh orang banyak. Lima, yaitu modal penampilan. Menjadi seorang agen perubahan tidak harus cantik atau ganteng. Modal penampilan yaitu cukup dengan menjaga kebersihan dan kerapian diri, serta selalu tersenyum di segala kesempatan. Itulah yang membuat penampilan seorang agen menjadi menarik.
Langkah nyata apa yang tepat dilakukan seorang agen perubahan dunia? Remaja sebagai agen perubahan dapat mengikuti kegiatan positif baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Salah satunya PMR. Meskipun PMR hanya kegiatan dalam lingkungan sekolah, namun juga berkontribusi positif terhadap masyarakat. Dengan mengikuti PMR, kita akan mendapatkan banyak sekali pengetahuan bukan hanya berkisar mengenai kesehatan, melainkan lingkungan hidup, kebersihan, kemandirian, kesiapan menghadapi bencana, pendidikan remaja sebaya, dan masih banyak lagi.. Banyaknya pengetahuan yang kita dapat dari PMR ini bisa menjadi pedoman atau langkah dasar untuk melakukan perubahan di masyarakat. Seorang anggota PMR harus mampu menerapkan sesuatu yang telah dipelajari dan menjadi contoh untuk orang lain.
Peran remaja dalam mengubah dunia dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan. Pertama kegiatan Donor Darah bila usia kita telah mencukupi (17-60 tahun) dan memenuhi syarat lainnya. Kedua, kita dapat ikut serta dalam kegiatan sosial seperti kegiatan pendidikan bagi anak – anak yang minim maupun bakti sosial dengan berkunjung ke panti asuhan. Ketiga, kita dapat ikut serta dalam kegiatan kemanusiaan seperti menjadi relawan dan membantu korban bencana. Saat ini relawan – relawan muda sangat diperlukan terutama di Indonesia sebagai negara yang rawan bencana. Keempat, kita harus peduli terhadap lingkungan hidup.
Kepedulian terhadap lingkungan hidup dapat diwujudkan melalui pola hidup yang hemat listrik. Apalagi di tengah kelangkaan dan mahalnya energy listrik di dunia. Seringkali kita berpikir apakah kita yang hanya satu orang ini mampu memengaruhi pasokan listrik dunia? Jawabannya tentu saja bisa. Kita sebagai manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial yang dapat berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, kita dapat mengajak orang lain untuk ikut menghemat listrik. Semakin banyak orang yang kita ajak semakin terasa pula dampaknya.
Selain pola hidup di atas, peduli terhadap lingkungan hidup juga dapat diwujudkan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Kegiatan ini adalah hal yang paling kecil dan paling mudah yang dapat kita lakukan, tetapi tidak semua orang sadar utnuk melakukannya. Apa yang dimaksud dengan membuang sampah sembarangan? Membuang sampah sembarangan yaitu membuang sampah yang tidak pada tempatnya, misalnya di sungai atau di jalan. Membuang sampah yang tepat yaitu di tempat sampah. Namun adakalanya ketika kita membuang sampah di tempat sampah termasuk membuang sampah sembarangan? Misalnya ketika kita membuang sampah plastik ke tempat sampah organik. Banyak akibat yang ditimbulkan ketika kita membuang sampah sembarangan. Seperti yang sering terjadi sekarang ini yaitu banjir.
Kita juga bisa mendaur ulang sampah atau limbah. Limbah sendiri bisa menimbulkan tiga pencemaran sekaligus, yaitu pencemaran tanah, air, dan udara. Mendaur ulang limbah dapat dilakukan dengan 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle). Reduce dengan pengurangan penggunaan kantong plastik dan air minum kemasan. Reuse yaitu menyimpan dan menggunakan kembali kantong plastik, dan lain sebagainya. Recycle yaitu mendaur ulang sampah plastik. Misalnya dengan membuat kerajinan tangan dari sampah plastik kemasan. Bisa berupa tas, sandal, tempat pensil, maupun tempat tisu.
Dalam hal pelestarian lingkungan, siswa SMK N 3 Kimia Madiun telah berhasil menciptakan “minyak plastik” sebagai bahan bakar lampu tempel kompor, bahkan motor dan mobil. Alat pengolahnya pun hasil rakitan sendiri dari tabung gas elpiji ukuran 3kg. Uji coba dilakukan sejak tahun 2008 dan berhasil mengolah semua jenis sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. Di Jawa Tengah dikampanyekan gerakan “Tumbler Rocks” yaitu gerakan untuk menggunakan botol air minum sehingga bisa mengurangi sampah plastik. Gerakan ini ditujukan untuk para pemuda karena sudah menumpuknya sampah palstik disana.

E. Penutup
Sayangnya belum banyak remaja yang sadar akan perannya sebagai agen perubahan, misalnya demonstrasi di jalanan bahkian tawuran pelajar. Oleh karena itu, penyadaran mengenai agen perubahan di kalangan remaja harus giat dilaksanankan. Salah satu hal telah dilakukan oleh PMI dengan mengadakan pelatihan kepada PMR, sebagai calon pemimpin masa depan dengan semangat perubahan. Remaja sebagai agen perubahan harus mampu mengubah pola piker masyarakat agar dapat turut serta memberikan apresiasi dan dukungan terhadap kegiatan para remaja yang mampu mengubah dunia.
Memulai perubahan berarti juga memulai mengubah diri sendiri. Act locally, impact globally. Setelah mengubah diri sendiri, kemudian lingkungan tempat tinggal. Tunggu waktu yang akan menunjukkan diri kita sebagai agen perubahan bagi bangsa, negara, bahkan dunia. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? Ayo jadi agen perubahan bagi dunia!

2 komentar:

  1. ijin copy yaa :) terimakasih:)

    BalasHapus
  2. terima kasih atas informasinya, izin copy ya,,,,,,,,,,,,,,,,

    BalasHapus

 

Indrati Prastiti Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | Best Kindle Device